Sahabat, pilih Agku Atau Dia
20.05 Edit This" Aduh, cepat dong istirahat…" ucapku dalam hati. Beruntunglah waktu berjalan begitu cepat, 1 jam, 2 jam. Dan….
" Hore… waktunya istirahat.." ucapku dengan pelan.Guru yang mengajarku hari ini pun sudah keluar dari kelasku dan aku juga mulai melangkahkan kakiku untuk beranjak dari kelasku, namun tiba-tiba Dina menghampiriku, ku lihat di tanganya sedang membawa sesuatu.
" Zahra, kamu mau ketemu Syarfan yah." Tanyanya padaku.
" Iya, memangnya ada apa?." Jawabku.
" Tolong kasih cokelat ini ke dia yah, bilang kalau ini dari aku." Ucapnya sambil memberikan aku cokelat dari tanganya.
" Oh ya sudah." Akupun menerima cokelat darinya, dan pergi meninggalkanya.
" Ah, Dina..dina…segitu cintanyakah kamu sama sahabatku itu." Desisku.Begitu aku tiba di depan tangga menuju bawah, tak sengaja aku melihat Syarfan, Aldo dan Tania sedang berkumpul. Akupun langsung menghampiri mereka. seperti biasa, Syarfan selalu membawa gitar ke sayanganya itu kesekolah, entahlah dengan obsesinya untuk menjadi seorang anak band.
" Syarfan, Aldo, Tania, ternyata kalian di sini aku cariin juga." Ucapku pada mereka.
" Ya udah sini duduk sama-sama, kebetulan Syarfan ngajakin kita untuk nyanyi bareng-bareng nih." Jawab Aldo.
" Mmmm, boleh juga."Inilah kebiasaan kami, nyanyi-nyanyi di anak tangga bersama-sama, meskipun menghalangi orang lewat tapi aku senang bersama mereka.
" Oh iya Fan, nih ada cokelat dari Dina." Lanjutku sambil meyerahkan cokelat pemberian Dina itu.
" Cie,cie…Syarfan." Ledek Tania.
" Apaan sih kamu Tan, eh Ra, kamu kenapa sih mau aja di titipin cokelatnya Dina."
" Sudah terima aja, itu kan amanah untuk aku." Jawabku.
" Ya sudah Fan, kalau kamu nggak mau biar aku aja yang terima." Seru Aldo yang tiba-tiba mengambil cokelat itu.
" Enak aja kamu Do, ini punya aku."Aku dan Tania hanya tertawa-tawa kecil.
" Dasar Syarfan, tadi marah-marah aku kasih cokelat dari Dina tapi akhirnya di ambil juga." Ucapku dalam hati.
" Eh, katanya mau nyanyi." Seruku.
" Nyanyi apa nih yang enak." Sambung Tania.
" Gimana kalau lagunya Armada yang baru itu, yang judulnya ku ingin setia." Jawab Syarfan.
" M…boleh, ayo Fan, mainkan gitarnya."sahut Aldo. " Di bagian Reffnya aja yah."
Syarfan memetik gitarnya dan kamipun mulai bernyanyi.
Ku tak mungkin mencintaimu,, karena hatiku tlah di miliki dia..Kau tak mungkin memilikiku sepenuh hati…aku hanya ingin setia….
aku pun tak sengaja melihat wajah Syarfan, ia tiba-tiba memandangku, ku lihat berbeda di sorot matanya, aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah yang lain dan aku tak sengaja melihat Dina sedang memperhatikan kami, dan aku yakin Dina melihat ketika Syarfan memandangku tadi. Sesaat kemudian bel masuk berbunyi kami masuk ke dalam kelas kami masing-masing, namun begitu aku masuk ke kelasku, Dina langsung menarikku duduk di sebelahnya.
" Din, kamu kenapa sih, tarik-tarik aku kaya gitu." Ucapku padanya.
" Tolong katakan yang sejujurnya, kamu suka dengan Syarfan?."
" Hah?!, suka dengan Syarfan, ya enggak lah, dia itu sahabat aku, kamu itu dapat kabar darimana sih." Jawabku dengan kaget. " Tadi aku gak sengaja ngeliat Syarfan mandang kamu, dan kayaknya Syarfan suka sama kamu. Dan aku kecewa kalau itu benar-benar terjadi."
" Ya ampun Din, kamu kaya gak tahu Syarfan aja, dia itu emang suka begitu sama aku, lagi pula aku gak suka sama dia."
" Oke, tapi awas kalau kamu sampai suka sama Syarfan."Dina mulai mengancamku. aku memang benar-benar tidak mencintai Syarfan aku hanya menganggap dia sebagai seorang sahabat, tapi entah dengannya ku harap Syarfan pun begitu padaku.
* * *
Keesokan harinya, aku, Syarfan, Tania dan Aldo kembali bersekolah seperti biasanya. Namun kali ini ada yang berbeda dari Syarfan, mengapa akhir-akhir ini ia selalu mencari perhatian kepadaku dan suka menjahiliku. Mulai dari iseng-iseng memukul lenganku hingga mengacak-acak rambutku, jelas saja aku marah padanya. Tapi Syarfan malah tidak meghiraukanya.Dan hari ini sebelum bel masuk berbunyi, aku berusaha mengerjakan tugasku di sekolah, karena aku benar-benar lupa mengerjakanya semalam lantaran Syarfan mengajakku mengobrol lewat handhphone sampai larut malam. " Hayyo Ra, lagi ngerjain PR yah, aku bilangin pak Rahmat loh, kamu kebiasaan sih ngerjain PR di sekolah." Ucap Syarfan yang tiba-tiba ada di sebelahku.
" Syarfan?, sejak kapan kamu di sini?. Lagi pula aku begini itu karena kamu nelpon aku sampai larut malam." Sahutku dengan kesal.
" Kenapa kamu ladenin aku, itu sih udah resiko kamu. Sini pulpenya." Ucap Syarfan, ia tiba-tiba mengambil pulpen dari tanganku.
" Syarfan….kamu tuh ngeselin banget yah, kembalikan pulpenku, nanti gak selesai nih PRnya."Syarfan berlari sambil membawa pulpenku, waktu yang tersisa hanya tinggal 15 menit lagi, aku khawatir PRku tidak selesai, Syarfan memang mengesalkan.
" Syarfan kembalikan pulpenku, nanti PRku gak selesai nih." Aku berlari mengejarnya.
" Yeeh itumah salahmu sendiri kenapa gak di kerjain PRnya."
" Syarfan,,,,,,"Di saat yang bersamaan tiba-tiba Gilang, anak kelas 9-5 datang kekelasku, dan langsung menangkap Syarfan.
" Sini pulpenya Fan." Ucap Gilang.
" Apa-apaan kamu, ikut campur aja." Jawab Syarfan dengan kesal.
" Aku bilang kembalikan pulpen itu ke Zahra."
Akhirnya Syarfan mengembalikan pulpenku juga, dan ini semua berkat Gilang.
" Maaf ya Ra, aku Cuma bercanda, makanya kalau ngerjain PR jangan di sekolah." Ucap Syarfan padaku, ia langsung pergi dan kembali ke kelasnya. Dari nada bicaranya aku mengerti kalau Syarfan berusaha memberi pelajaran padaku agar tidak mengerjakan PR di sekolah lagi. Tapi entah kenapa begitu Gilang datang wajah Syarfan berubah kesal.
" Kamu ga apa-apa kan." Ucap Gilang padaku.
" Enggak ko
" Lain kali kalau ngerjain PR jangan di sekolah ya."Aku tersipu malu di hadapanya, Gilang pun segera pergi dan bermain bersama anak laki-laki lain di kelasku. Benyak di antara teman-temanku mengatakan kalau Gilang suka denganku, begitupun dengan kedua sahabatku, Aldo dan Tania, namun Syarfan selalu kesal jika mendengar itu padahal aku sama sekali tidak memperdulikan anggapan itu.
" Eh Ra, sebenarnya kamu tuh sukanya dengan Gilang atau Syarfan sih?." Ucap tania teman sekelasku yang tiba-tiba menghampiriku.
" Hah?!, aku nggak suka dengan keduanya, aku hanya menganggap mereka temanku."
" Jangan sampai kamu suka dengan Syarfan, bisa-bisa kamu di terror sama Dina."
"Hahaha, ada-ada aja kamu."Aku tertawa mendengar itu, aku suka dengan Syarfan atau Gilang itu sama sekali tidak masuk akal, Syarfan adalah sahabatku yang paling baik begitupun dengan Gilang.
* * *
Begitu jam istirahat berbunyi, aku kembali berkumpul bersama sahabat-sahabatku yang lain. Tapi kali ini ku lihat berbeda dalam tatapan Syarfan padaku.
" Fan, kamu kenapa sih ngeliatin aku kaya gitu?." Tegurku. Syarfan langsung mengalihkan pandanganya kea rah yang lain. Tania dan Aldo pun terlihat bingung dengan kelakuan Syarfan padaku akhir-akhir ini.
" Tau nih, Syarfan kamu kenapa sih?." Tanya Tania.
" E..eenggak kok." Jawab Syarfan tergagap.
" Eh, sudah-sudah, siapa tau aja Syarfan tadi lagi melamun." Sambung Aldo.
" Mmmm, besokkan kita sekolah libur nih, gimana kalau kita olahraga, ya…muter-muter kompleks aja." Lanjutnya.
" Aku sih setuju-setuju aja, tapi gimana dengan yang lainya." Sahutku." Ya sudah, kalau itu baik kenapa tidak ia kan Fan." Lanjut Tania.
"E…iya-iya." Jawab Syarfan.
" Teman-teman, aku ke kelas dulu yah, aku tadi lupa nyatet materi pelajaran bu Tuti, aku takut sudah di hapus nih sama anak-anak." Ucapku.
" Kamu memang kebiasaan seperti itu, enggak PR lupa di kerjain, Catatan lupa di tulis, Zahra…Zahra…" seru Syarfan.
" Yeee namanya aja lupa, ya sudah yah teman-teman aku ke kelas dulu."
" Nanti kalau catetannya sudah di hapus aku pinjamin aja catetanku ya Ra, biar kamu nggak pusing-pusing untuk belajar, karena bentar lagi mau ujian semester ganjil." Ucap Syarfan lagi.
" Ah… tumben perhatian." Jawab Tania.Aku tersenyum Ke arah Syarfan, dan berjalan menuju kelasku di lantai 3. begitu aku sampai di kelas, aku langsung mengambil catatan Matematikaku di dalam tas, namun alangkah kagetnya aku begitu aku membuka bukuku, penuh coret-coretan. Tega sekali yang melakukan hal semacam ini padaku. Aku terus melihat ke lembar berikutnya masih banyak coret-coretan. Aku kesal, sangat kesal pada orang yang tega melakukan ini padaku.Mengapa dia begitu tega mencoret-coret buku catatanku, padahal dua minggu lagi ujian semester ganjil. Aku terus membuka buku ku sampai kertas terakhir, dan kulihat nama Syarfan yang tertera di sana dan dialah pelakunya.
" Syarfan,,,,, kenapa kamu tega melakukan ini padaku, kamu tega mencoret-coret buku catatanku, aku nggak habis fakir sama kamu Syarfan." Desisku, aku sangat kesal bahkan marah padanya, pantas saja dia berkata seperti itu padaku.Jam istirahat masih tersisa 15 menit lagi, saat itulah Syarfan, Tania, dan Aldo datang kekelasku. Ku lihat wajah Syarfan, uuuh, aku sangat marah padanya.
" Zahra gimana sudah nyatetnya?." Tanya Syarfan padaku.Aku diam tak menjawab.
" Kamu kenapa sih Ra, aku tanya kok ga di jawab." Ucap Syarfan padaku.Aku langsung menunjukan buku catatanku yang penuh dengan coretan itu kepada Syarfan.
" Ini ulahmu kan." Ucapku dengan amat marah.
" Hah?!, kenapa dengan buku catatanmu Ra?." Jawab Syarfan seolah ia tak tahu apa-apa.
" Alah jangan pura-pura gak tahu deh, kamu kan yang coret-coret buku aku." Bentakku.
" Demi Allah Ra, bukan aku yang coret-coret buku kamu. Kalaupun aku yang mencoretnya kapan aku melakukanya, sedangkan istirahat tadi aku sama kalian terus." Jelas Syarfan.Aku masih meragukan jawabanya
." Lalu kenapa ada nama kamu di sini." Sahutku sambil memberikan buku catatanku itu kepadanya. Syarfan meneliti tulisan yang beratas namakan namanya itu." I..ini bukan tulisan aku."
" Alah bohong kamu Fan."
" Zahra bukankah lebih baik kita dengar dulu penjelasan Syarfan belum tentu dia pelakunya." Sambung Tania.
" Tania benar Ra, kamu gak boleh nuduh orang sembarangan gitu.
" Lanjut Aldo.Syarfan mengangguk, ia menatapku lekat-lekat." Pulang sekolah nanti aku akan buktikan ke kamu Ra, kalau bukan aku yang mencoret bukumu itu." Kata Syarfan dengan tegas.
" Ku pegang janjimu Fan, kalau terbukti kamu yang melakukan ini, aku akan marah besar padamu."
Syarfan, Aldo dan Tania kembali kekelas mereka masing-masing. Sebenarnya, aku masih tak percaya kalau Syarfan pelakunya, karena selama ini Syarfan selalu baik padaku.
* * *
begitu sekolah selesai, aku bersama Tania menunggu Syarfan dan Aldo di depan pintuGerbang sekolah, aku menanti jawaban yang pasti dari Syarfan. Tak lama kemudian Syarfan dan Aldo datang, tapi sepertinya Syarfan membawa seseorang, dan aku kenal dengan orang itu, begitu mereka mendekat…
" Gilang?!." Ucapku dengan sangat kaget.
" Syarfan, ngapain kamu bawa-bawa Gilang?." Lanjutku.
" Justru dia yang akan menjelaskan ini semua." Jawab Syarfan.Aku semakin bingung dengan apa yang terjadi.
" Gilang, ada apa ini sebenarnya, apa kamu ada hubunganya dengan bukuku yang di coret-coret." Ucapku Heran.
" Ngaku loe kalau loe yang nyoret-nyoret buku Zahra." Ucap Syarfan dengan sangat kesal pada Gilang.Gilang terdiam.
" Ngomong kaga loe." Lanjut Aldo.
" Teman-teman cukup." Sambungku, aku tidak tega melihat Gilang di perlakukan seperti itu oleh mereka.
" Gilang apa benar kamu yang coret-coret buku catatan aku." Tanyaku.Gilang mengangguk sambil tertunduk. Akupun sangat kaget dengan ini semua, alangkah bersalahnya aku pada Syarfan karena sudah menuduhnya.
" Kalau kamu yang melakukanya kenapa kamu menulis nama Syarfan di akhir coretan itu?." Aku mencoba mengendalikan emosiku.
" Itu karena…karena…aku nggak mau kamu dekat-dekat dengan Syarfan aku mau kalian bertengkar." Jelas Gilang. Aku dan Syarfan bagai tersambar petir, bagaimana mungkin Gilang ingin kami bermusuhan.
" Tapi kenapa kamu menginginkan itu?." Jawabku dengan sedikit tenang. Sementara Syarfan sudah tak dapat menahan dirinya lagi.
" Aku,, aku,,aku suka Ra sama kamu, aku cinta sama kamu. Dan aku nggak mau Syarfan merebut kamu dari aku."Aku kembali tersentak, aku bingung dengan ini semua.
" Syarfan…ngerebut aku dari kamu, apa maksudnya aku nggak ngerti." Sahutku.
" Nanti kamu akan mengerti itu Ra." Gilang langsung berlari dengan sangat kencang. Aku melihat wajah Syarfan yang sepertinya juga bingung sama sepertiku.
" Fan, aku minta maaf yah karena sudah menuduhmu." Ucapku pada Syarfan.
" Enggak apa-apa ko Ra, satu pesan dari aku, kalau di suruh nyatet ya nyatet dan kalau ada PR di kerjain di rumah jangan di sekolah."Aku tersenyum sambil menggarukan kepalaku, aku jadi malu pada Syarfan.
" Hehehe."
" Ya sudah nih aku pinjamin catatanku, nanti kamu salin di rumah jangan di fotocopy." Lanjut Syarfan lagi.Aldo dan Tania tertawa-tawa kecil. Syarfan…kamu buat aku malu aja sih. Tapi aku percaya kok, Syarfan sayang sama aku, Tania, dan Aldo sebagai sahabatnya.
" Sudah yuk lanjutkan perjalanan pulang kita." Sambung Aldo.
" Alah Do, bahasamu ketinggian." Sahutku.Kamipun kembali melanjutkan perjalanan ke rumah kami masing-masing. Aku masih tak habis fikir dengan ucapan Gilang tadi.
" Syarfan, apa benar kata teman-teman di sekolah, kalau kamu suka sama aku. Tapi…ah itu tidak mungkin." Ucapku dalam hati. Aku melihat wajah Syarfan yang sedang tersenyum sembaring berjalan.
* * *
" Zahra…..Zahra…." teriak seseorang dari depan rumahku. Aku terbangun dan membuka jendela kamarku.
" Loh, Syarfan, Tania, dan Aldo, masih pagi gini kok sudah menyamparku." Ucapku ketika aku baru saja membuka jendela kamarku.Aku segera keluar dan membuka pintu untuk mereka.
" Ya ampun baru jam segini kok kalian sudah nyamper aku sih." Ucapku pada mereka, sambil melihat jam dinding yang baru menunjuk angka 05.30 Wib.
" Kamu niat olahraga gak sih, jam segini itu sudah termasuk siang, sudah sana mandi dulu biar kami tunggu kamu di dalam." Jawab Syarfan.
" Ya sudah deh, ayo masuk."Kami semua masuk ke dalam rumah, dan aku pun bersiap-siap untuk berolahraga.dan Teng….
" Teman, teman, aku sudah siap nih, ayo kita keluar." Ucapku pada mereka.
" Oke deh." Sahut TaniaKami segera keluar dan bergegas untuk lari pagi mengitari komplek di sekitar rumahku.
" Ayo dong Ra, cepat larinya." Ucap Syarfan padaku yang kini ada di sebelahku.
" Ah, bawel kamu Fan, kaya larinya cepat aja."
" Oke kita balapan." Tantang Syarfan.Syarfan mengajaku balapan lari, oke siapa takut. Aku juga bisa lari lebih cepat darinya. Namun ketika aku baru saja ingin berlari mengejarnya tiba-tiba….
" BRUK!!!." Seseorang menabraku dari arah belakang hingga terjatuh, sejenak aku pandang wajahnya.
" Dina?." Ucapku dalam hati, ia langsung berlari begitu aku melihatnya. Aku tak habis fikir apa mungkin Dina sengaja berbuat ini padaku.
" Ra, kamu ga apa-apa?." Tanya Syarfan yang tiba-tiba menghampiriku. Di ikuti Tania dan Aldo.
" Kamu ga apa-apa Ra?." Tanya Tania.
" Aku baik-baik aja kok." Jawabku.
" Tapi Ra, dengkulmu berdarah kita ke rumahku yuk biar kamu bisa aku obati." Pinta Syarfan.
" Sudahlah ini hanya luka kecil aja kok."
" Tapi Ra." Lanjut Syarfan.
" Sudahlah Fan, gak usah khawatir gitu aku gak apa-apa kok, ayo kita lari lagi."
" Aku gak akan lanjutin larinya kalau lukamu belum di obati."Aku menarik nafas panjang,
" Oke deh, kita ke rumahmu Fan."
" Mmm Ra, kayaknya aku gak bisa temenin kamu ke rumah Syarfan deh soalnya, pagi ini aku ada janji sama mamah untuk menemani dia belanja, maaf yah." Ucap Tania.
" Ya sudah deh ga apa-apa, kamu do?."
" Kalau aku….sebenarnya sih gak ada acara apa-apa tapi…aku juga kayaknya gak bisa, hari ini kan ada acara kartun favorit aku dan tadinya ku kira lari pagi hanya sampai jam 07.00 aja tapi ternyata Zahra kecelakaan sory yah."
" Ya ampun Do, segitu pentingnya kartun dari pada teman sendiri." Ucap Syarfan dengan kesal.
" Iiiih bukannya gitu. Tapi hari ini saudaraku juga datang, sekali lagi maaf ya."
" Sudah lah Fan biarin aja." Sahutku.
" Ya udah deh, kalau gitu aku dan Zahra pulang ke rumahku dulu yah, kasian nih si Zahra, dengkulnya berdarah." Aku dan Syarfan pergi kerumahnya, Syarfan memang sangat perhatian padaku dan sahabatku yang paling baik. Begitu kami tiba di rumahnya Syarfan langsung mengambilkan obat untukku, dan rumah ini sangat terasa sepi.
" Fan, ibu bapakmu kemana?."
" Biasalah Ra, walaupun hari minggu mereka selalu sibuk, dan aku selalu di rumah sendiri."Aku melihat sejenak raut wajah Syarfan, aku tahu dia sangat kesepian.
" Mmm, Fan, kamu kenapa sih ko perhatian banget sama aku padahal kamu sendiri butuh perhatian."
Syarfan tersenyum ke arahku.
" Itu sudah jelas karena kamu adalah sahabatku, dan aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."Aku mulai heran dengan jawaban Syarfan kali ini.
" Tapi, aku lihat ada yang beda dari sifatmu padaku."
" Ra sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku kasih tau ke kamu dan aku harap kamu gak marah Ra." Ucap Syarfan sambil meraih tanganku dan menggenggamnya.
" Ya udah ngomong aja, aku gak marah kok."
" Walau sebenarnya ini berat bagimu, tapi aku sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ini di hatiku, aku selalu berharap bisa memilikimu, seperti langit memiliki bulan dan bintang yang menerangkanya. Mereka saling membantu, bintang mambantu langit menerangkan ketika malam datang dan bulan membantu Bintang memancarkan cahayanya, aku ingin seperti mereka yang selalu memiliki satu dengan yang lainya."
" Lalu maksudmu apa?." Ucapku dengan heran.
" Aku suka Ra sama kamu."Alangkah terkejutnya aku begitu Syarfan berkata seperti itu padaku. Aku langsung berdiri dan meninggalkan Syarfan. Air mata menetes di pipiku, entah apa yang kini tengah ku rasa. Aku tidak pernah berfikir sejauh ini kalau Syarfan benar-benar menyukaiku.
* * *
Malam kini telah tiba, bulan bersinar dengan indahnya. Namun aku masih terfikirkan dengan ucapan Syarfan pagi tadi padaku. Di saat itupula tiba-tiba ku dengar suara seseorang memanggilku, aku segera menghampirinya dan ternyata ibuku yang memanggil.
" Ada apa Mah?." Tanyaku pada ibu.
" Tadi nenekmu telpon, katanya kita sekeluarga di suruh tinggal dengan nenek di Makassar, kasihan kakek sudah sakit-sakitan dan nenek tidak mampu untuk mengurus kakek sendiri." Jawab mamah.
" Tapi bagaimana dengan sekolahku."
" Kamu kan bisa sekolah di sana." Sambung Ayah.
" Tapikan tanggung ayah, hanya tinggal beberapa bulan lagi aku lulus."
" Ayah tahu nak, tapi nenekmu kasihan tidak ada yang membatunya mengurus kakek di sana."
" Kapan kita berangkat." Tanyaku lagi.
" Hari selasa kita berangkat ke sana."
" Ya sudahlah." Jawabku sambil menarik nafas.Aku kembali ke kamarku, dan merebahkan diriku di atas kasur, tiba-tiba aku teringat akan Aldo, Tania, dan Syarfan. Apa aku sanggup untuk mengatakan ini pada mereka dan berpisah dengan mereka. ini sungguh berat bagiku.Keesokan harinya, aku kembali kesekolah. Mungkin hari ini adalah yang terakhir kalinya aku bersekolah di Smp ini, karena ayahku sedang mengurus surat kepindahanku. Dan aku benar-benar tidak bisa mengatakan ini pada sahabat-sahabatku.
" Teeeeet…." Suara bel berbunyi, kami belajar seperti biasa. Tapi kali ini aku sama sekali tidak bisa fokus saat guruku menjelaskan mata pelajaran. Hingga sampai saatnya waktu istirahat aku masih terdiam di kelasku dan saat itulah Gilang datang.
" Zahra kamu nggak ngumpul dengan yang lainya?." Tanya Gilang.
" Nggak aku males."
" Wah kesempatan bagus nih." Desus Gilang yang sayup-sayup terdengar ke telingaku. Aku tak memperdulikan itu.
" Mmm, Ra, aku mau tanya sama kamu." Lanjutnya.
" Ya sudah ngomong aja."
" Kamu maukan terima aku."
"Terima apa sih?, aku gak ngerti." Ucapku sambil berdiri, tiba-tiba saja Gilang memegang tanganku.
" Aku cinta sama kamu, kamu maukan terima cinta aku."
" Alah gombal kamu Lang."Aku langsung beranjak hendak pergi dan saat itulah Syarfan datang.
" Zahra." Teriaknya.Aku menoleh ke arahnya begitupun dengan Gilang.
"Mau apa laki-laki kurang ajar ini ada si sini, dan mau apa dia di sini." Bentak Syarfan di hadapanku.
" Syarfan, ada apa denganmu, bicaramu itu terlalu kasar." Jawabku dengan kesal.
"Heh!, mau apa loe." Lanjut Syarfan sambil mendorong Gilang." Suka-suka gw dong, apa urusan loe."
"Zahra suruh dia pergi dari sini cepat." Pinta Syarfan padaku.
" Syarfan, sebenarnya ada apa sih, kalian kok jadi bertengkar gini, soal kejadian kemarin aku sudah gak marah lagi kok dengan Gilang, jadi kamu gak usah sekasar itu sama dia."
" Zahra, kamu kan tahu aku suka sama kamu dan aku sayang sama kamu, aku gak mau laki-laki ini nyakitin kamu kaya kemarin."
aku terdiam sejenak, nampaknya Gilang cukup terkejut mendengar pengakuan Syarfan.
" Oh, jadi kamu juga suka sama Zahra, oke kalau gitu kita bersaing."
" Oke siapa takut, Zahra sekarang aku mau tanya sama kamu. Siapa yang kamu pilih, Gilang yang baru kamu kenal setahun belakangan ini atau aku sahabatmu yang sudah sangat mengenalmu" Seru Syarfan padaku. Aku semakin bimbang, mengapa semuanya jadi seperti ini. Padahal aku sendiri sudah cukup pusing dengan kepindahanku ke makassar.
" Kalian tuh apa-apaan sih, kok jadi kayak gini, aku gak mau memilih di antara kalian, itu karena…." Aku tetunduk lemas.
" Krena apa Ra." Tanya Syarfan.
" Karena kalian itu sahabat aku, Gilang, sebelumnya aku mau ucapin terima kasih sama kamu, karena kamu selalu membantu aku di saat aku sedang kesulitan menghadapi pelajaran-pelajaran di sekolah ini, aku minta maaf karena aku gak bisa terima kamu, dan Syarfan, kamu adalah seorang sahabat yang sangat berharga bagiku, dan aku sama sekali tidak mau kehilangan kamu karena ku tahu tidak ada sahabat sepertimu di bumi ini, aku juga gak bisa terima kamu, karena aku sama sekali tidak mau menyakiti perasaan kalian, mungkin inilah yang terbaik untuk kita semua." Jelasku pada mereka.
"Tapi Ra, kita minta jawaban darimu, bukan seperti ini jawabanya, aku mau kamu memilih di antara kami." Ucap Syarfan.
" Tadi sudah aku bilang, aku gak bisa terima kamu Syarfan atau kamu Gilang sekali lagi aku minta maaf, lagi pula kalau kita pacaran bukan berarti dunia milik kita berdua, masih ada, mamah, ayah, Tania, Aldo, dan teman-teman yang lainya. Ku harap kalian mau mengerti." Lanjutku lagi.Aku langsung pergi meninggalkan mereka, meskipun ku tahu ini berat tapi setidaknya aku lega karena sudah mengatakan hal ini pada mereka.
* * *
Senja kini telah datang, ayah dan mamah sedang membereskan pakaian-pakaian mereka begitupun denganku, karena besok kami akan berangkat ke makassar. Meskipun aku tak bisa sepenuhnya menerima kenyataan terberat ini, tapi inilah yang terjadi, aku tak dapat mengatakan hal ini pada teman-teman karena mungkin akan menyakitkan perasaan mereka, dan aku tak bisa melepaskan mereka.
" Mah, kenapa secepat ini kita pergi?." Tanyaku dengan lemas.
" Sebenarnya mamah juga ingin tetap di sini tapi kasihan nenekmu, kakek sudah sering sakit-sakitan, apa kamu tega membiarkan nenekmu kelelahan."Aku tertunduk lemas.
"tapi bagaimana dengan pekerjaan ayah dan mamah?." Tanyaku lagi.
" Untuk satu bulan penuh kami mengambil cuti dari kantor dan setelah itu ayah dan mamah akan kembali ke Jakarta." Jawab ayah.
" Jadi aku akan tetap tinggal di sana?."
" tolong ya nak."
aku terdiam sepi, ingin rasanya aku menangis di hadapan mereka, bukan karena aku takut di tinggal di sana tapi aku tak mau meninggalkan sahabat-sahabat yang menyayangiku di sini.Aku benar tidak bisa tidur begitu malam datang. Terlalu berat bagiku untuk meninggalkan kenangan bersama mereka.
" Syarfan, Tania, Aldo, maafkan aku, aku nggak sanggup bilang ini ke kalian." Ucapku dalam hati.Bersama dengan hadirnya bintang malam aku terlelap meski hati ini tak tenang dan selalu terbayang masa-masa indah bersama mereka.Tepat pukul 09.00 kami sekeluarga tiba di bandara, pesawat kami tiba sekitar 5 menit lagi dan…. Akhirnya tibalah saat ku berangkat. Dengan perlahan aku masuk ke dalam pesawat. Sejenak ku kenang semua kenangan indahku ketika di Jakarta ini.
" Zahra, cepat masuk." Ucap mamah.
" I…iya mah, aku masuk." Jawabku.Begitu aku duduk di kursiku pesawatmu segera berangkat. Sedikit demi sedikit hingga sampai kami di atas, kota Jakarta sangat indah di pandang dari atas ini. Akan ku kenang semua beserta semua kenangan indah yang ku miliki.
* * *
Hanya dengan menempuh waktu selama satu setengah jam kami tiba di makassar kakek dan nenek menyambut kami dengan hangat begitu kami tiba. Banyak hamparan sawah menghijau di sana sini." Zahra semoga kamu betah ya di sini, di sini juga pemandanganya tidak kalah menarik loh dengan di Jakarta." ucap kakek padaku.Aku tersenyum memandang kakek.
" M,,, kek di sekitar sini ada kantor pos tidak?." Tanyaku.
" Kalau kantor pos tidak ada yang di dekat sini, adanya di wali kota sana."
" Kamu mau ayah antarkan?."
" Iya ayah."
" Tapi nanti sore aja yah, kita kan baru sampai kamu lelah ayah juga lelah kita istirahat dulu yah."Rasanya tidak sabar menunggu sore datang, aku ingin sekali mengabarkan kepada sahabat-sahabatku kalau aku tidak tinggal di Jakarta lagi. Walaupun berat tapi aku akan mencoba untuk tegar dalam semua ini.Aku masuk ke dalam kamar yang telah di sediakan oleh kakek dan nenek, dan aku tulis sebuah surat untuk sahabatku.Ayah memang menepati janjinya padaku untuk mengantarkan aku ke kantor pos. aku sangat bahagia meskipun masih sedikit ada luka di hatiku.
" Ayah makasih ya sudah mau mengantarkan Zahra."
" Sama-sama sayang."Setelah aku selesai mengirimkan suratku, kami kembali ke rumah nenek, sudah banyak jamuan makan malam yang di siapkan di meja makan. Dan kamipun makan bersama-sama.Sudah seminggu ku tunggu balasan dari mereka, tapi sampai sekarangpun aku belaum mendapatkan balasan itu.
" Surat…" teriak seseorang dari depan pintu aku langsung membuka pintu dan.
" Horre tukang pos." ucapku dalam hati.
" Ada surat pak untukku?."
" Untuk adinda Zahra."
" Iya pak itu saya."
" Sebentar yah."Aku menunggu surat yang di berikan oleh pak Pos." Ini nak Suratnya."
" Makasih ya pak."Aku langsung masuk kedalam dan membaca surat itu.Dengan berlinangan air mata beserta senyum yang meneyelimuti raut wajahku, aku membaca surat dari mereka. sampai jumpa sahabat….





